4 Komentar

Jangan Ngimpi Jadi Masinis, Nak!


Selamat malem…

Malem ini, gw dapet artikel yg cukup bagus nih dari kompas.com. Sebenernya tadi lagi nyari info di mbah gugel tentang cara ngelamar jadi masinis, tapi belum nemu hasil yg sreg… Akhirnya malah nemu artikel ini. Artikelnya bagus banget, mangkanya ama gw di post juga disini.

Mau tau isi artikelnya, mau tau..??

Iseng-iseng saya tanya pada anak lelaki seorang teman soal cita-citanya. Siswa kelas 4 SD itu menjawab,”pengen jadi insinyur.” Wajah teman saya kelihatan sumringah. Kakak lelakinya tiba-tiba muncul, lalu pertanyaan yang sama saya lontarkan padanya. Jawabannya sungguh membuat teman saya tersenyum lebar. “Aku pengen jadi dokter arau presiden,” ucapnya setengah malu-malu.

Punya cita-cita, apapun itu, bukanlah dosa. Selain tanpa biasa alias gratis, juga tak ada satupun undang-undang yang melarang orang punya mimpi ingin menjadi ini atau itu. Cita-cita selalu positif adanya seperti suatu profesi atau pekerjaan, pangkat maupun gelar dan semacamnya. Semua orang tua, termasuk saya tentunya, selalu senang mendengar jawaban setiap anak ketika ditanya soal cita-citanya.

Begitu pula teman saya, dari wajahnya tersirat rasa gembira mendengar jawaban kedua anak lelakinya tadi. Meskipun sebenarnya ia sadar betul bahwa cita-cita itu belumlah tentu bisa dicapai anak-anaknya. Punya cita-cita memang bebas biaya, tetapi untuk meraihnya butuh dana yang tidak sedikit dan tidak ringan bagi teman saya dan masyarakat kebanyakan.

“Bagi saya yang penting mereka masih punya cita-cita, karena semua memang bermula dari mimpi. Dan saya senang karena mereka tidak menyebut cita-citanya menjadi masinis kereta api. Amit-amit, Jangan sampailah mereka punya cita-cita jadi masinis. Bukan karena pekerjaan itu dilarang agama atau suatu pekerjaan yang bersifat kriminal, tetapi lantaran resikonya yang jauh lebih besar dibanding penghasilan yang didapatnya,” kata teman saya.

Masinis sesungguhnya pekerjaan yang sangat mulia, karena eksistensinya yang membuat kita bisa berpindah dari satu kota ke kota lainnya dalam waktu relatif singkat. Masinis pula yang membuat kita merasa terhibur melihat indahnya alam Indonesia dari balik jendela. Berkat jasa masinis pula, kita bisa kembali kumpul keluarga setiap hari raya Idul Fitri dan bersilaturahmi dengan suadara dan teman-teman di kampung halaman. Pendek kata, masinis itu banyak jasanya.

Tapi, kalau teman saya sampai bilang “amit-amit” dengan cita-cita jadi masinis, itu karena fakta betapa besarnya resiko yang harus ditanggung seorang masinis ketika kereta api yang dikemudikannya menabrak kereta api lain hingga mengakibatkan puluhan bahkan mungkin ratusan nyawa melayang. Masinis jadi orang pertama yang disalahkan, seperti yang pernah dialami Slamet Suradio dulu dan kini M. Halik Rusdianto.

Slamet adalah masinis KA 225 (Rangkasbitung-Jakarta Kota) yang bertabrakan secara frontal dengan KA 220 (Tanah Abang-Merak) di kawasan Bintaro, Tangerang, pada 19 Oktober 1987. Kecelakaan itu mengakibatkan 156 orang tewas dan 300 lainnya mengalami luka-luka berat dan ringan. Sedangkan Halik adalah masinis KA Argo Bromo Anggrek yang menabrak KA Senja Utama di Stasiun Petarukan, Pemalang, Jawa Tengah, 2 Oktober lalu. Dia langsung ditetapkan sebagai tersangka karena dianggap melakukan kelalaian dalam menjalankan tugasnya.

Slamet kini tinggal di sebuah rumah sederhana di Dusun Krajan Kidul, RT 02/RW 02 Desa Gintungan, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo. Dia menghabiskan sisa hidupnya dalam kemiskinan dengan berjualan rokok eceran di rumahnya. Slamet termasuk menjadi korban luka dalam kecelakaan tersebut. Ia baru tersadar Slamet baru tersadar ketika sudah berada di ruang ICU RS Kramat Jati dengan luka-luka di sekujur tubuh. Kaki kanannya patah. Kulit pinggulnya sobek. Selain itu, semua giginya rontok gara-gara terhantam handle rem kereta. Begitu tabrakan terjadi, tubuh Slamet terlempar hingga belakang jok masinis.

Sedangkan Halik tak jelas keberadaannya saat ini, menurut istrinya, Ade Sukarni (48 tahun) dan putri pertamanya, Eni Septriani (24 tahun). Sudah tiga hari sejak peristiwa maut itu, namun Ade dan putrinya belum mendapat kabar apa pun dari Halik. “Kami putus komunikasi,” kata Ade. Halik tak pernah mengirim kabar. Informasi yang diketahui keluarga, hanya dari tayangan pemberitaan televisi. Begitu juga, saat masinis ini ditetapkan menjadi tersangka oleh polisi di jajaran Polres Pemalang.

Halik sebenarnya seorang masinis senior di PT KAI. Keberadaannya di KA Agro Bromo Anggrek pun atas perintah atasannya untuk mengawal masinis baru yang membawa KA tersebut ke Pekalongan. Sejak 1981 ia sudah menekuni pekerjaan di perkeretaapian. Usai lulus sekolah dari SMKN I Karawang, Halik langsung bekerja menjadi montir di bengkel PT KAI. Seiring dengan berjalannya waktu, Halik diangkat menjadi asisten masinis sampai menjadi masinis. Kemudian, Halik memegang jabatan sebagai Pengawas Dipo Lokomotif Jatinegara pada Seksi Sarana I Jakarta. Pada 2009 lalu, Halik naik pangkat menjadi instruktur masinis Dipo Lokomotif Jatinegara. Ade menegaskan, soal kereta Halik sangat berpengalaman.

Pekerjaan sebagai masinis KA memang menyimpan lebih banyak cerita pilu ketimbang senangnya. Mulai dari gaji yang tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sampai dimarah-marahi penumpang ketika KA ngendon terlalu lalu di suatu stasiun. Bahkan, ketika ia memperingatkan penumpang yang naik di atap kereta, jawaban yang diterima seringkali sangat menyakitkan.

Lumrah saja jika teman saya tidak menginginkan anak-anaknya punya cita-cita jadi masinis KA. Tapi, bagaimana jadinya jika tak seorang pun lagi di Indonesia ini ingin menjadi masinis. Atau, bisa dibayangkan apa yang terjadi, jika hari ini, tak satupun masinis mau mengemudikan KA karena ketakutan mengalami nasib seperti yang ditimpakan kepada Slamet dan Halik.

Gimana, bagus kan artikelnya..😀

Jangan lupa di rate ama komen yah..😀

TErima kasih udah berkunjung ke sini..😀

4 comments on “Jangan Ngimpi Jadi Masinis, Nak!

  1. Mas,itu sih sama aja mendiskriminasikan suatu cita-cita.Sekarang ini kembali ke PT.KAnya bs apa gak ngehargai masinis sebagai salah satu frontliner di perusahaanya…

  2. Intinya, semua pekerjaan selalu memiliki resiko, beda’a ada yg tanggung jawab’a besar dan ada yang tanggung jawab’a ringan..

  3. bagaimana prosesnya ya untuk menjadi seorang masinis? butuh info banget

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: